Assalamu'alaikum warahmatullah
Kali ini saya akan mengajak saudaraku sekalian kembali mencari hikmah di balik cerita-cerita iseng di kala waktu Senggang,.
langsung aja,.,.
Dua orang peneliti biologi sedang mengadakan penelitian lapangan.
Pada sebuah pohon seorang di antara mereka menemukan ulat hijau pemakan daun.
“Hei lihat, ada ulat hijau. Kamu tahu kan ulat ini mengandung banyak protein. Nah kalau kamu berani makan ulat ini, saya akan bayar 1 juta rupiah,” seru peneliti pertama menantang temannya adu nyali.
Mendengar tantangan tersebut peneliti kedua balik menantang,” Kamu saja yang makan, aku bayar dua juta!”
Tanpa diduga peneliti pertama malah tak gentar, ia segera makan ulat tersebut sekalipun menahan muntah. Selesai memaksakan diri menelan ulat tersebut, ia menagih uangnya.
Dengan berat hati peneliti kedua mengeluarkan dua juta yang baru saja diterimanya sebagai bayaran proyek penelitian.
Tak lama kemudian mereka melihat lagi seekor ulat yang sama.
Peneliti pertama, menantang lagi peneliti kedua.
“Ayo, kalau kamu berani makan ulat seperti aku, aku bayar 2 juta juga,” tantangnya.
Kali ini peneliti kedua tak mau kalah ia segera mengambil ulat dan melahapnya. Lalu ia meminta bayaran dua juta.
Impas keduanya sama-sama dapat dua juta.
Lalu keduanya diam, rasanya ada yang salah.
Peneliti pertama berkata.” Kita bodoh juga ya, kita sama-sama menyiksa diri memakan ulat tapi tidak ada satupun dari kita yang bertambah kaya”
“Betul juga, uang kita tetap padahal kita sudah melakukan sesuatu yang sangat menantang!” jawab peneliti kedua.
Keduanya lalu sadar baru saja melakukan hal yang sia-sia.
===========================================
Pernahkah kita mengalami hal seperti ini?
kita melakukan sesuatu dan kita merasa berbuat sesuatu tapi padahal pada akhirnya kita kembali pada keadaan yang itu-itu juga. Ada sebuah fakta yang mungkin bisa menggambarkan kisah diatas,., konon Laboratorium Ruang Angkasa AS menghabiskan jutaan dolar hanya untuk menliti, menciptakan tinta yg bisa digunakan di ruang hampa, karena selama ini tinta selalu tidak keluar ketika dipakai menulis di Ruang angkasa (mungkin lantaran nggak ada grafitasi). Padahal disisi lain para Kosmonot Rusia kalau menulis di angkasa luar cukup menggunakan PENSIL saja.
Begitulah kalau kita terlalu tergiur dengan Obsesi dari suatu hasil, kita merasa telah membuat sesuatu hal yang besar karena terikat dengan iming-iming hadiah yang dijanjikan tapi ternyata semua itu kosong tak berarti, ketika kita menyadari ada hal yang sangat sederhana sering kita lupakan.
Allah SWT berfirman :
'Sesungguhnya beruntunglah orang-orang Mukmin. Yaitu, orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya. Dan orang-orang yang meninggalkan perbuatan sia-sia.'' (QS Almukminun [23]: 1-3).
Dalam kehidupan keseharian, disadari atau tidak, manusia seringkali terjebak dalam perbuatan sia-sia (al-laghwu). Perbuatan yang kelak di hari kiamat tidak mendatangkan pahala, bahkan sebaliknya mendatangkan kerugian dan akhirnya menyeret pelakunya ke neraka. Karena itulah kita mesti berhati-hati dalam melangkah, bertindak, dan bersikap.
Rasulullah SAW dalam sebuah hadis menyebutkan, segala sesuatu yang di dalamnya tidak terdapat dzikrullah (mengingat kepada Allah) merupakan perbuatan sia-sia, seperti senda gurau, dan permainan. Kecuali empat hal yaitu senda gurau suami-istri, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.
Seorang ulama hadis terkemuka, Sufyan Ats sauri, menyebut sepuluh hal yang termasuk al-laghwu itu. Di antaranya adalah :
- orang yang berdoa untuk dirinya sendiri tapi tidak berdoa untuk kedua orang tua dan kaum Muslimin;
- orang yang sering membaca Alquran tapi tidak membaca secara tertib sampai seratus ayat tiap-tiap hari;
- laki-laki yang masuk masjid tapi tidak mengerjakan shalat tahiyatul masjid.
Yang juga termasuk perbuatan sia-sia, menurut Sufyan ats sauri, adalah :
- orang-orang yang melintasi pekuburan tapi tidak mengucapkan salam kepada para penghuninya dan tidak mendoakan keselamatan untuk mereka;
- laki-laki yang masuk ke suatu kota pada hari Jumat tapi tidak mengerjakan shalat Jumat berjamaah;
- orang yang kenyang sedangkan tetangganya kelaparan.
- Seseorang yang tinggal di suatu lingkungan bersama seorang ulama, namun ia tak menggunakan kesempatan tersebut untuk menambah ilmu pengetahuannya.
- Begitupun dengan pemuda yang melewatkan masa mudanya tidak untuk menuntut ilmu dan meningkatkan budi pekerti.
- Juga, dua orang pria yang bersahabat, tapi mereka tidak saling menanyakan keadaan masing-masing dan keluarganya;
- orang yang mengundang tamu namun ia tidak melayani tamunya itu dengan baik. Itulah perbuatan yang merugi.
Namun, yang paling sia-sia adalah perbuatan orang-orang seperti yang disebut dalam surat Alkahfi (18) ayat 103-105.
''Katakanlah: Maukah kamu, Kami beritahukan tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka menyangka telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu adalah orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan-Nya, maka terhapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan penimbangan amal bagi mereka pada hari kiamat.''
Seringkali kita terjebak pada situasi yang membuat kita melakukan perbuatan yang kelihatannya menghasilkan seuatu padahal tidak menghasilkan apa-apa malah kadang merugi.
Karena itu pikir matang-matang segala tindakan Anda sehingga tidak terjebak pada perbuatan sia-sia atau malah merugi.
Wallahu ta'ala alam bishowwab,.,.
Inspirated by http://hiburan.kompasiana.com/ & http://senowahyu.multiply.com/



0 komentar:
Posting Komentar